Read Time:6 Minute, 14 Second

Oleh : Paryan – APN Kemhan.

JAKARTA ||
Dinamika perkembangan lingkungan strategis, baik global, regional maupun nasional, dewasa ini telah mengisyaratkan tantangan yang besar dan kompleks bagi pertahanan negara, khususnya dalam menjaga kedaulatan, keutuhan wilayah dan keselamatan bangsa.

Dalam era globalisasi ini dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu cepat, maka ancaman semakin berkembang dan bersifat multidimensional, fisik dan nonfisik, baik yang berasal dari luar dan dari dalam negeri,  baik ancaman  ancaman militer dan nonmiliter. Salah satunya perkembangan teknologi informasi juga berpotensi memunculkan disinformasi di masyarakat dan harus mampu diantisipasi oleh sistem pertahanan dan keamanan negara.

Dimana perkembangan lingkungan strategis dalam era kompetisi global berdampak pada tingginya dinamika politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan dan keamanan, serta geopolitik dan geostrategi global.

Perkembangan lingkungan strategis bisa menghadirkan ancaman militer maupun non militer, beberapa contoh kasus global, salah satunya yang sedang mengemuka saat ini dan sangat berpengaruh terhadap hubungan antar negara, yakni persaingan dagang antara Amerika Serikat dengan China yang terus meluas ke beberapa sektor dan mengancam perekonomian global.

Dinamika perkembangan lingkungan strategis baik di kawasan global, regional dan nasional dewasa ini telah menciptakan spektrum kompleksitas ancaman yang mengganggu kepentingan nasional dan berimplikasi pada pertahanan negara.

Perkembangan lingkungan strategis juga terus diwarnai kompetisi dan perebutan pengaruh negara besar, ini telah menempatkan Indonesia pada pusat kepentingan global. Oleh karenanya, bilamana tidak siap dan waspada Indonesia dapat saja tergilas dalam kompetisi global yang tidak mengenal batas dan waktu.

Perkembangan dimensi ancaman dari satu dimensi ke dimensi lain termasuk dimensi ideologi, politik, ekonomi, sosial, keamanan, informasi dan teknologi dapat berubah secara tiba-tiba dan tidak mudah untuk diprediksi.

Perkembangan dimensi ancaman ini telah mewujudkan adanya bentuk ancaman nyata dan belum nyata yang dapat mempengaruhi tatanan kedepan kehidupan berbangsa dan bernegara terhadap penyelenggaraan pertahanan negara.

Ancaman merupakan usaha-usaha yang membahayakan kedaulatan negara, keselamatan bangsa dan negara. Potensi ancaman yang dihadapi NKRI dari dalam negeri, antara lain pertama, disintegrasi bangsa, melalui gerakan-gerakan separatis berdasarkan sentimen kesukuan atau  pemberontakan akibat ketidakpuasan daerah terhadap kebijakan pemerintah pusat.

Separatisme atau keinginan memisahkan diri dari negara kesatuan Republik Indonesia jika tidak diketahui akar permasalahannya dan ditanggani secepatnya akan membuat keutuhan negara Republik Indonesia terancam;

Kedua, keresahan sosial akibat kesenjangan ekonomi dan ketimpangan kebijakan ekonomi serta  pelanggaran Hak Azasi Manusia yang pada gilirannya dapat menyebabkan huru hara/kerusuhan massa;

Ketiga penggantian ideologi Pancasila dengan ideologi lain yang ekstrim atau tidak sesuai dengan  jiwa dan semangat perjuangan bangsa Indonesia;

Keempat, makar atau penggulingan pemerintah yang sah dan konstitusional;

Kelima, munculnya pemikiran memperluas daerah otonomi khusus tanpa alasan yang jelas, hingga persoalan-persoalan yang muncul di wilayah perbatasan dengan negara lain;

Keenam, pemaksaan kehendak golongan tertentu berusaha memaksakan kepentingannya secara tidak konstitusional, terutama ketika sistem sosial politik tidak berhasil menampung aspirasi yang berkembang dalam masyarakat;

Ketujuh, potensi konflik  antar kelompok/golongan baik perbedaan pendapat dalam masalah politik, konflik akibat pilkada maupun akibat masalah SARA.

Kedelapan, Kolusi, Korupsi dan Nepotisme (KKN) sangat merugikan negara dan bangsa  karena akan mengancam dan menghambat pembangunan nasional.

Kesembilan; kesenjangan ekonomi, pemerataan pendapatan yang tidak adil antar kelompok dan antardaerah;

Kesepuluh, penyalahgunaan narkoba, pornografi dan porno aksi, pergaulan bebas, tawuran, dan lain-lain;

Kesebelas, pengerahan massa atau melakukan tindak kekerasan untuk memaksakan kehendaknya.

Sedangkan ancaman dari Luar Negeri pada saat ini yang paling perlu diwaspadai adalah ancaman non militer. Untuk Ancaman militer semakin berkurang. Namun Ancaman militer yang terjadi, berupa pelanggaran wilayah oleh pesawat atau kapal perang negara lain.

Potensi ancaman dari luar lebih berbentuk ancaman nonmiliter yaitu ancaman terhadap ideologi, politik, ekonomi, dan sosial budaya.

Pertama ancaman terhadap ideologi merupakan ancaman terhadap dasar negara dan ideologi Pancasila.
Ideologi lain seperti liberalisme, komunisme, dan ideologi yang berbasis agama semakin mudah diterima oleh masyarakat Indonesia di era globalisasi ini.
Nilai-nilai ideologi luar sering bertentangan dengan Pancasila.

Kedua, ancaman terhadap ekonomi dalam era perdagangan bebas,semakin bebasnya impor produk luar negeri, investasi asing, dan sebagainya. Ketidakmampuan menghadapi globalisasi perdagangan bebas mengakibatkan  penjajahan dalam bentuk yang baru.
Eksploitasi sumber daya alam yang merusak lingkungan, illegal loging, illegal fishing, pencurian kekayaan alam, penyelundupan barang.

Ketiga, ancaman terhadap sosial budaya dengan upaya menghancurkan moral dan budaya bangsa melalui disinformasi, propaganda, peredaran narkoba, film-film porno atau berbagai kegiatan kebudayaan asing yang mempengaruhi bangsa Indonesia, terutama generasi muda, dan merusak budaya bangsa.

Keempat, ancaman terhadap Pertahanan dan Keamanan antara lain pelanggaran wilayah oleh kapal atau pesawat militer negara lain, peredaran narkoba intemasional, kejahatan intemasional, kelompok luar negeri yang membantu gerakan separatis, dan sebagainya.

Ancaman di masa depan akan dipengaruhi oleh perkembangan lingkungan strategis global, regional dan nasional yang semakin berat dan kompleks.
Proses globalisasi menciptakan integrasi masyarakat dan segenap dimensi kehidupannya menjadi sebuah masyarakat global.
Kemajuan teknologi memberikan akses cepat dan mudah dalam penyebaran wilayah dan ide, termasuk akses untuk memaksakan isu tertentu seperti : Demokratisasi yang bebas, Paham radikalisme, Intoleransi,  Perlindungan hukum dan HAM, Lingkungan hidup,  Pemanasan global, Krisis energi, Krisis keuangan global, Mobilisasi arus informasi barang, jasa dan manusia.

Pertahanan negara adalah segala usaha untuk mempertahankan kedaulatan negara, keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan keselamatan segenap bangsa dari ancaman serta gangguan terhadap keutuhan bangsa dan negara.

Dalam implementasinya, pertahanan negara mengacu pada sistem pertahanan bersifat semesta, yang melibatkan seluruh warga negara, wilayah, dan sumber daya nasional lainnya.
Pertahanan negara itu dipersiapkan secara dini oleh pemerintah dan diselenggarakan secara total, terpadu, terarah, dan berkelanjutan dalam menghadapi ancaman dalam rangka mewujudkan tujuan nasional.

Untuk menghadapi perkembangan ancaman yang makin beragam, Indonesia perlu menata kembali kekuatannya.
Dalam konteks pertahanan negara, permasalahan ini tidak cukup ditangani hanya dari aspek kekuatan utama militer saja.
Untuk membangun ketahanan nasional setidaknya ada tiga pilar yang harus saling terkait yaitu pemerintahan, rakyat, dan militer. Ketiganya dijalin dalam simpul untuk memperkuat sebuah negara.

Didalam menghadapi potensi ancaman-ancaman diperlukan konsep pembangunan mindset seluruh rakyat Indonesia, melalui penanaman wawasan kebangsaan, agar tidak mudah dipengaruhi dan terprovokasi oleh upaya pencucian otak dari kelompok tertentu yang ingin memecah belah bangsa.

Dimana saat ini Indonesia masih mendapat ancaman serius berupa gerakan radikalisme, terorisme dan intoleransi. Kita harus waspada terhadap kegiatan yang berupaya meruntuhkan Pancasila sebagai ideologi negara dan mengganggu keberadaan NKRI. TNI dan seluruh rakyat Indonesia harus bersatu padu menjadi benteng kedaulatan bangsa.

Maka diperlukan desain strategi pertahanan Negara juga diarahkan dengan konsep Perang Rakyat Semesta atau Total Warfare yang melibatkan pembangunan seluruh komponen Bangsa yang dilandasi oleh Penanaman Nilai-Nilai Kesadaran Bela Negara yang lahir dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia disertai pembangunan kekuatan TNI beserta alutsistanya sebagai Komponen Utama Pertahanan Negara.

Kunci kekuatan dalam menghadapi masuknya berbagai potensi ancaman fisik dan non fisik yaitu dengan cara memperkuat identitas dan jati diri bangsa serta membangun persatuan dan kesatuan yang kokoh dari seluruh komponen bangsa melalui Penanaman Nilai-Nilai Pancasila dan penguatan kesadaran Bela Negara.

Dalam kawasaan regional maupun glonal diperlukan diplomasi pertahanan dalam upaya mewujudkan stabilitas kawasan, agar mengajak negara lain untuk lebih terbuka dan saling memahami dan mematuhi hokum internasional. Kegiatan  Patroli Bersama (coordinated patrol), dimana kawasan adalah pekarangan rumah bersama, sehingga menjadi tugas bersama untuk menjaga dan mengamankan serta memanfaatkan bersama kawasan.

Perlunya perluasan kerja sama  yang telah ada ini sangat diperlukan untuk menciptakan konektivitas kerja sama sub-regional,  guna mengantisipasi perkembangan situasi keamanan kawasan dalam kaitan terorisme dan radikalisme.

Gagasan adanya patroli terpadu di kawasan Asean dengan melibatkan Indonesia, Malayasia dan Philipina untuk mengatasi perompak dan terorisme sangat berhasil. Demikian juga adanya patroli bersama Asean di Laut China Selatan akan membantu mengurangi ketegangan dan menjaga stabilitas di luar Laut China Selatan.

Perilis & Kontributor : Warsitho Hadi – DKI Jakarta

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Previous post APBD Samisade di wilayah Kampung Tajurhalang
Next post Konsep Otomatis
Close