Read Time:2 Minute, 9 Second

KEMANG –
Menjelang datangnya bulan Suci Ramadan, beberapa harga bahan pokok seperti beras, gula, cabai rawit, minyak goreng, tempe, tahu, telur hingga daging sapi dan daging ayam terpantau mulai mengalami kenaikan harga. 

Hal ini tentu akan berdampak pada daya beli masyarakat yang hingga saat ini masih terhimpit persoalan ekonomi di tengah wabah pandemi. Tentu juga akan berakibat pada asupan makanan bergizi bagi keluarga terutama untuk mendukung tumbuh kembang anak tercinta.

Menanggapi kondisi tersebut pengamat ekonomi dan perempuan, Rina Fatimah memberikan beberapa saran khususnya bagi emak – emak agar tetap bisa memberikan menu masakan terbaik bagi keluarga. 

Alumnus Universitas Indonesia (UI) ini mengungkapkan, bahwa bulan Ramadan merupakan momentum yang luar biasa bagi setiap keluarga muslim. Waktu yang tepat untuk bisa lebih mendalami dan mengamalkan ajaran agama Islam. Dan salah satu yang selalu ditunggu – tunggu bagi setiap muslim yang berpuasa ialah waktu berbuka puasa.

“Kini harga-harga bakan makanan terus merangkak naik membuat emak yang biasanya menyiapkan makanan untuk menu berbuka harus pandai mengatur keuangan keluarga,” ujar Rina Fatimah, Kamis (17/4/2022).

Ia menambahkan, wabah pandemi Covid-19 telah mengganggu ekonomi dari keluarga Indonesia. Dimana banyak pendapatan keluarga menurun namun disisi pengeluaran justeru lebih meningkat karena harga – harga melonjak. Pengamat ekonomi dan keluarga dari Kampus Budi Bakti ini memberikan beberapa tips serta saran bagi emak bagaimana mengelola keuangan keluarga.

“Pertama, emak harus membuat prioritas kebutuhan keluarga yaitu kebutuhan primer dan sekunder. Kebutuhan primer merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi seperti cicilan rumah, biaya pendidikan anak-anak dan makanan sehari-hari,” ucapnya.

Rina menegaskan, pendidikan harus jadi prioritas karena investasi jangka panjang dan harapan agar kehidupan anak-anak labih baik pada masa mendatang. Lalu, bagaimana cara memenuhi kebutuhan jika pendapatan tetap atau bahkan menurun akibat pandemi Covid-19.

Menurut Rina, emak bisa menunda pemenuhan kebutuhan sekunder seperti hiburan, olahraga, jalan-jalan, kongkow dan makan-makan di cafe, pembelian perabotan rumah tangga. Kebutuhan sekunder ini, lanjutnya, kebutuhan yang masih bisa di tunda sehingga saat tidak terpenuhi tidak berdampak langsung kepada hidup mati keluarga.

“Jangan terjebak promo murah yang tidak sesuai dengan kebutuhan yang mendesak. Pada dasarnya promo untuk menarik minat agar orang membeli dengan harga lebih murah. Namun, seringkali barang yang sipromosikan bukanlah barang kebutuhan pokok,” paparnya.

Yang terakhir, pemegang gelar Magister dari IPB University ini menyarankan agar emak lebih pintar dalam memilih menu makanan pengganti yang memiliki kandungan gizi yang sama baiknya.

“Misalnya daging diganti dengan tempe tahu, ikan laut dengan ikan air tawar atau ikan asin. Tentu dengan menu dan resep terbaik bisa membuat keluarga dan anak – anak akan menyukai masakan yang disiapkan.” pungkas Rina Fatimah.
(Red)

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Previous post Ambruk 6 Tahun Silam, SDN Pasirkupa Cianjur Belum Ada Perhatian Pemda
Next post Presidium Bogor Timur Kukuhkan Acep Supriadi sebagai Korwil Jonggol
Close