Read Time:2 Minute, 27 Second

Sukabumi – Kepala Sekolah yang juga Pemilik Madrasah Ibtidaiyah (MI) Cibeber di Desa Cikarang Kecamatan Cidolog Kabupaten Sukabumi, Dayat diduga menyerobot lahan milik Husen dan dijadikannya lokasi sekolah tersebut.

Konon mediasi sudah 3 kali dilakukan namun tak juga ada penyelesaian, hingga menantu pemilik lahan bernama Ujang biasa dipanggil Aby Raden yang juga pengurus Perguruan Maung Bodas meminta pendampingan Ketua Lembaga Perlindungan Konsumen Nusantara Indonesia (LPK NI) Bogor Raya.

Mediasi digelar Rabu (29/6/2022) pukul 9 pagi di halaman sekolah yang dihadiri oleh Kepala Kesa Cikarang, juga Kepala Dusun, ketua RT, Pol PP. dan tokoh masyarakat.

“Pada saat Kepala Desa mempertanyakat surat tanah milik Dayat yang dipergunakan untuk sekolah dengan tujuan melakukan chek and recheck, Kades menelepon Stafnya untuk mengecek luas lahan yang tertulis pada kertas segel jual beli dan NJOP, dan ternyata lahan milik Dayat hanya seluas 800 meter persegi,” ungkap Aby Raden dihubungi melalui ponselnya, Ahad (2/7/2022).

Masih menurut Aby Raden, ukur ulang pun dilakukan oleh Perangkat Desa disaksikan bersama peserta mediasi yang hadir, dan hasilnya luas tanah yang dikuasai sekolah mencapai lebih dari 1004,5 meter persegi, alhasil terdapat kelebihan tanah yang telah dipergunakan sekolah seluas 204,5 meter persegi.

“Dihadapan para saksi yang hadir, Dayat tidak menampik dan mengakui bahwa sebagian lahan yang dibangun sudah bertahun tahun itu adalah tanah milik pak Husen mertua saya,” imbuhnya.

Lanjut Aby Raden, dalam musyawarah tersebut, di ruang terpisah, Dayat menyanggupi untuk membayar /ganti rugi lahan yang dipakainya dengan harga 250 ribu rupiah per meter persegi dengan tempo satu minggu ke depan, dan kemudian apa yang disanggupi Kepsek Dayat tersebut diumumkan dalam forum musyawarah.

“Usai mediasi, pihak kami selaku korban merasa perlu adanya pegangan tertulis dan kamipun mendatangi kediaman Dayat menyodorkan pernyataan tertulis untuk ditanda tangani olehnya, namun Dayat ternyata tidak mau menandatangani surat tersebut dengan alasan hendak dibicarakan terlebih dahulu dengan para orang tua murid dan guru,” pungkas Aby.

Senada dengan Aby Raden, Niko Yulwi Janarko selaku Kuasa Hukum keluarga Husen menganggap Kepsek Dayat sangat keterlaluan, “Tindakan Kepala Sekolah ini sudah keterlaluan dengan nyata telah melakukan tindak pidana penyerobotan, menguasai lahan orang lain tanpa izin, namun sepertinya Dayat merasa masih kurang keterlaluan. Faktanya dari ucapan yang disanggupinya di depan forum musyawarah, Dayat tidak bertanggung jawab, dan malah diduga akan melemparkan tanggung jawabnya kepada para guru dan orang tua murid. Ini sangat keterlaluan,” ungkap Niko dihubungi melalui ponselnya, Ahad (2/7/2022).

“Jika memang akan melibatkan para orang tua murid dan guru, seharusnya saat musyawarah Dayat jangan menyanggupi akan membayar 250 ribu per meter dengan kurun waktu satu minggu tersebut,” imbuh Niko.

“Atas kejadian tersebut, Aby Raden kami arahkan untuk mengadukan permasalahan yang dialaminya kepada Mapolsek Sagaranten. Kami berharap Polisi gerak cepat bertindak tegas sesuai prosedur hukum yang berlaku, karena hasil musyawarah dianggap tidak memuaskan korban, dan karena Kepsek Dayat tidak mau menandatangani pernyataan tertulis, maka kamipun tidak percaya lagi, cukup sudah bertahun-tahun lahan milik Husen dikuasai secara sepihak oleh Dayat, habis sudah kesabaran keluarga Husen,” pungkas Niko.

(Red)

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Previous post Musyawarah Alih Fungsi Rumah Ibadah di Batugede, Berjalan Kondusif
Next post Bulan Bakti Cegah Stunting, IIDI Kabupaten Bogor Roadshow ke Sejumlah Kecamatan 
Close